Rabu, 26 April 2017

Cerita Rakyat dari Kampung Seribau Distrik Teminabuan Kabupaten Sorong Selatan: Asal Mula Kali Sembra





ASAL MULA KALI SEMBRA
(Cerita Rakyat dari Kampung Seribau Distrik Teminabuan Kabupaten Sorong Selatan)

 


Adik – adik yang terkasih.  Di Kampung Seribau Distrik Teminabuan Kabupaten Soreong Selatan terdapat kali yang sangat jernih dan airnya berwarna biru. Orang – orang menamai kali tersebut “Kali Sembra”.
Nach… kali ini kakak akan menceritakan asal mula terjadinya Kali Sembra. Silahkan disimak baik – baik ya… , semoga kalian bisa mengambil hikmah dari cerita tersebut.
Zaman dahulu di Kampung Seribau hiduplah Bapak Srefle bersama keluarganya. Keluarga tersebut memiliki seorang anak laki – laki. Istri Bapak Srefle sedang mengandung. Mereka hidup berbahagia dan bersiap menanti kehadiran anggota baru dalam keluarga.
Bapak Srefle memenuhi kebutuhan pangan keluarganya dengan cara mencari makan di hutan. Suatu hari persediaan makanan sudah habis, maka Srefle mengajak anaknya pergi ke hutan untuk mencari makanan. Istrinya yang sedang hamil tua ditinggal di rumah, sementara anaknya laki – laki diajak supaya tidak merepotkan istrinya.
“Nak, mari kita berangkat ke hutan untuk mencari makanan. Biarkan ibumu istirahat di rumah !” Ajak Srefle pada anaknya.
“Ayah, kita akan mencari binatang buruan ya… ?” Tanya anaknya.
“Iya…, Nak!”Jawab Srefle.
Dengan senang hati, sang anak mengikuti ayahnya. Mereka berjalan mencari buah-buahan dan hewan yang dapat dimakan.
Tiba – tiba anak Srefle berteriak , “Ayah… .Lihat ada kelinci!
Srefle segera melemparkan tombak ke arah kelinci yang ditunjuk oleh anaknya.
Wuuuussss…..praaanggg..!!!! Namun sayang….lemparan tombak Srefle meleset dan mengenai sebatang pohon.
“Haaaah….meleset Ayah ! Kelincinya lari…!”teriak anak Srefle.
“ Ayo nak…., kita harus kejar kelinci itu!” seru Srefle.
Srefle dan anaknya segera berlari mengejar kelinci tersebut. Ketika sedang  berlari, tiba – tiba kaki anak Srefle tersandung sebatang pohon dan terjatuh. Srefle kemudian menolong anaknya bangun. Batang pohon yang menyandung kaki anaknya ternyata adalah batang pohon sukun yang sudah mati.
Srefle berkata, “Nak, ini adalah pohon sukun yang sudah mati. Pasti ada banyak ulat pohon yang bisa kita makan.”
“Ayah, bukankah ulat kayu adalah makanan yang sangat bergizi?”
“Betul anakku. Ayah akan memetik  daun awo dulu untuk membungkus ulat – ulat yang kita dapat.”
Srefle memotong daun ‘awo’, sejenis rotan dan meletakkan daun itu di atas tanah dekat pohon sukun hutan yang telah mati itu. Ia pun melayangkan kapaknya pada pohon sukun itu dan menoreh keluar ulat kayu yang ada di dalamnya.
Melihat apa yang dilakukan Srefle, anaknyapun ingin melakukan hal yang sama..
Ayah, aku mau bantu ayah  mengambil ulat-ulat itu” rengeknya.
Melihat wajah anaknya yang ingin membantunya, dengan tersenyum ia berkata;
“Boleh asalkan kamu berani memegangnya.” Ambillah daun renat dan letakkan di sini,” kata Srefle.
Anak Sreflepun segera memetik daun renat dan meletakkannya di atas kubangan babi dekat pohon sukun hutan itu. Menurut adat orang Teminabuan, daun renat adalah sejenis daun yang pantang untuk membungkus makanan, terutama ulat kayu, ulat sagu, dan daging babi karena hal tersebut akan membawa bencana. Menoreh ulat kayu sukun hutan dan meletakannya pada kubangan babi juga merupakan perbuatan tabu bagi orang Teminabuan.
“Ayah, bolehkah daun renat ini aku letakkan di sini ? Ini bekas kubangan babi?”Tanya anak Srefle
Srefle menjawab, “ Ya…tidak apalah.”
Di atas daun renat, anak Srefle membagi–bagi ulat kayu itu sambil berkata:
 “Yang ini untuk saya, yang satu ini untuk ayah, satu lagi untuk ibu. Satu lagi untuk babi yang di dalam kandang. Terus ini ada satu lagi untuk siapa ya…? Oh.. iya… untuk adik yang masih dalam kandungan Ibu.”
Baru saja selesai anak Srefle berbicara, tiba–tiba terdengar bunyi gemuruh yang sangat keras disertai suara deras air. Anak Srefle sangat kaget dan berteriak seraya memeluk Ayahnya.
 “Ayah, suara apakah itu ? Tanya anak Srefle ketakutan.
Srefle menoleh ke tempat sumber suara gemuruh tersebut dan terpana melihat air semburan yang keluar dari tempat anaknya menorehkan ulat kayu di atas daun renat.
Tanpa berkata-kata, Srefle segera menarik anaknya dan memeluknya. Ia terkejut melihat air yang memancar keluar dari dalam tanah.
Melihat kejadian yang aneh itu, Srefle bergegas menjauhi tempat itu. Anaknya ia naikkan ke pundaknya, kemudian segera berlari sekuat tenaga.
Namun,  air terus  menyembur tinggi dari dalam tempat kejadian itu lalu jatuh dan mengalir  mengikuti Srefle. Kemana pun ia lari, air itu tetap mengikutinya.
Ia menaiki bukit dan menuruni lembah, tetapi air itu tetap mengikutinya. Hingga sampailah Srefle di tepi laut. Di sini kakinya terperosok ke dalam sebuah lubang ikan gelodok sehingga tak sanggup lagi menghindari air bah itu.
Sejak itulah tubuh Srefle dan anaknya berubah menjadi batu. Air yang mengejarnya menjadi kali. Air  yang mengejar Srefle berwarna biru sehingga kali itupun kemudian disebut sebagai Kali Sembra. 
Dalam bahasa Tehit Se artinya air, Mbra artinya biru. Jadi Sembra artinya air biru. Tubuh Srefle dan anaknya yang berubah jadi batu hingga sekarang masih berdiri di muara Kali Sembra  serta dinamakan ‘Nawqro’ (lelaki yang tegak berdiri).
Demikianlah Kali Sembra terjadi  karena Srefle dan anaknya menoreh ulat kayu sukun hutan dan meletakannya pada kubangan babi.
Pesan Moral : Kita sebaiknya mengikuti nasehat orang tua dan jangan melanggar hal–hal yang tidak boleh dilakukan agar kita terhindar dari bencana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar