ASAL MULA KALI SEMBRA
(Cerita Rakyat
dari Kampung Seribau Distrik Teminabuan Kabupaten Sorong Selatan)
Adik – adik yang terkasih. Di Kampung Seribau Distrik Teminabuan
Kabupaten Soreong Selatan terdapat kali yang sangat jernih dan airnya berwarna
biru. Orang – orang menamai kali tersebut “Kali Sembra”.
Nach… kali ini kakak akan menceritakan asal mula terjadinya
Kali Sembra. Silahkan disimak baik – baik ya… , semoga kalian bisa mengambil
hikmah dari cerita tersebut.
Zaman dahulu di Kampung Seribau hiduplah Bapak Srefle bersama
keluarganya. Keluarga tersebut memiliki seorang anak laki – laki. Istri Bapak
Srefle sedang mengandung. Mereka hidup berbahagia dan bersiap menanti kehadiran
anggota baru dalam keluarga.
Bapak Srefle memenuhi kebutuhan pangan keluarganya dengan cara
mencari makan di hutan. Suatu hari persediaan makanan sudah habis, maka Srefle mengajak anaknya pergi ke hutan untuk mencari makanan. Istrinya yang sedang
hamil tua ditinggal di rumah, sementara
anaknya laki – laki diajak supaya tidak merepotkan istrinya.
“Nak, mari kita berangkat ke hutan untuk mencari makanan. Biarkan
ibumu istirahat di rumah !” Ajak Srefle pada anaknya.
“Ayah, kita akan mencari binatang buruan ya… ?” Tanya
anaknya.
“Iya…, Nak!”Jawab Srefle.
Dengan senang hati, sang anak mengikuti ayahnya. Mereka berjalan mencari buah-buahan dan hewan yang dapat dimakan.
Tiba – tiba anak Srefle berteriak , “Ayah… .Lihat ada
kelinci!
Srefle segera melemparkan tombak ke arah kelinci yang
ditunjuk oleh anaknya.
Wuuuussss…..praaanggg..!!!! Namun sayang….lemparan tombak
Srefle meleset dan mengenai sebatang pohon.
“Haaaah….meleset Ayah ! Kelincinya lari…!”teriak anak Srefle.
“ Ayo nak…., kita harus kejar kelinci itu!” seru Srefle.
Srefle dan anaknya segera berlari mengejar kelinci tersebut. Ketika
sedang berlari, tiba – tiba kaki anak
Srefle tersandung sebatang pohon dan terjatuh. Srefle kemudian menolong anaknya
bangun. Batang pohon yang menyandung kaki anaknya ternyata adalah batang pohon
sukun yang sudah mati.
Srefle berkata, “Nak, ini adalah pohon sukun yang sudah mati.
Pasti ada banyak ulat pohon yang bisa kita makan.”
“Ayah, bukankah ulat kayu adalah makanan yang sangat bergizi?”
“Betul anakku. Ayah akan memetik daun awo dulu untuk membungkus ulat – ulat yang
kita dapat.”
Srefle
memotong daun ‘awo’, sejenis rotan dan meletakkan daun itu di atas tanah dekat pohon sukun hutan yang telah mati itu. Ia pun melayangkan kapaknya pada pohon sukun itu dan menoreh keluar ulat kayu
yang ada di dalamnya.
Melihat
apa yang dilakukan Srefle, anaknyapun ingin melakukan hal yang sama..
“Ayah, aku mau bantu ayah mengambil
ulat-ulat itu” rengeknya.
Melihat wajah anaknya yang ingin membantunya, dengan
tersenyum ia berkata;
“Boleh asalkan kamu berani memegangnya.” Ambillah daun
renat dan letakkan di sini,” kata Srefle.
Anak
Sreflepun segera
memetik daun renat dan
meletakkannya di atas kubangan babi dekat pohon sukun hutan itu. Menurut
adat orang Teminabuan, daun renat adalah sejenis daun yang pantang untuk
membungkus makanan, terutama ulat kayu, ulat sagu, dan daging babi karena hal tersebut
akan membawa bencana. Menoreh ulat kayu sukun hutan dan meletakannya pada
kubangan babi juga merupakan perbuatan tabu bagi orang Teminabuan.
“Ayah,
bolehkah daun renat ini aku letakkan di sini ? Ini bekas kubangan babi?”Tanya anak
Srefle
Srefle
menjawab, “ Ya…tidak apalah.”
Di
atas daun renat, anak Srefle membagi–bagi ulat kayu itu sambil berkata:
“Yang ini untuk saya, yang satu ini untuk ayah,
satu lagi untuk ibu. Satu lagi untuk babi yang di dalam kandang. Terus ini ada
satu lagi untuk siapa ya…? Oh.. iya… untuk adik yang masih dalam kandungan Ibu.”
Baru
saja selesai anak Srefle berbicara, tiba–tiba terdengar bunyi gemuruh yang
sangat keras disertai suara deras air. Anak Srefle sangat kaget dan berteriak
seraya memeluk Ayahnya.
“Ayah, suara apakah itu ? Tanya anak Srefle
ketakutan.
Srefle
menoleh ke tempat sumber suara gemuruh tersebut dan terpana melihat air
semburan yang keluar dari tempat anaknya menorehkan ulat kayu di atas daun
renat.
Tanpa
berkata-kata, Srefle segera
menarik anaknya dan memeluknya. Ia terkejut melihat air yang memancar keluar
dari dalam tanah.
Melihat
kejadian yang aneh itu, Srefle bergegas menjauhi tempat itu. Anaknya ia naikkan
ke pundaknya, kemudian segera berlari sekuat tenaga.
Namun,
air terus menyembur tinggi dari dalam tempat kejadian
itu lalu jatuh
dan mengalir mengikuti Srefle. Kemana pun ia lari, air itu tetap mengikutinya.
Ia
menaiki bukit dan menuruni lembah, tetapi
air itu tetap mengikutinya. Hingga sampailah Srefle di tepi laut. Di sini
kakinya terperosok ke dalam sebuah lubang ikan gelodok sehingga tak sanggup
lagi menghindari air bah itu.
Sejak
itulah tubuh Srefle dan anaknya berubah menjadi batu. Air yang mengejarnya menjadi kali.
Air yang mengejar Srefle berwarna biru
sehingga kali itupun kemudian disebut sebagai Kali Sembra.
Dalam
bahasa Tehit Se artinya air, Mbra artinya biru. Jadi Sembra artinya air biru.
Tubuh Srefle dan anaknya yang berubah jadi batu hingga sekarang masih berdiri
di muara Kali Sembra serta dinamakan
‘Nawqro’ (lelaki yang tegak berdiri).
Demikianlah
Kali Sembra terjadi karena Srefle dan
anaknya menoreh ulat kayu sukun hutan dan meletakannya pada kubangan babi.
Pesan
Moral : Kita sebaiknya mengikuti nasehat orang tua dan jangan melanggar hal–hal
yang tidak boleh dilakukan agar kita terhindar dari bencana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar