Asal Usul Marga Simat
(Cerita
rakyat dari Tanah Tehit Distrik Teminabuan
Kabupaten Sorong Selatan Provinsi Papua Barat )
Adik
- adik yang terkasih, pernahkah kalian melihat burung kasuari? Kasuari adalah
sejenis unggas yang tidak bisa terbang. Kasuari berasal dari Papua Barat. Ia
memiliki kekuatan terbesar pada kakinya. Hewan ini sangat berguna bagi
kehidupan manusia. Dagingnya sangat lezat dan bergizi tinggi. Telurnya dapat
dimakan dan mengandung protein yang tinggi. Namun, bagi marga Simat memakan daging
dan telur kasuari adalah haram. Hmmmm....kenapa haram ya....? Menurut cerita
yang disampaikan oleh para tetua marga Simat, dari hewan tersebut lahirlah
marga mereka. Menarik bukan? Nah... berikut ini adalah cerita asal usul marga
Simat. Yuuk...dibaca agar pengetahuan kalian tentang cerita rakyat asli
Indonesia bertambah.
Zaman
dahulu di dekat hulu sungai Skak hiduplah masyarakat Kais, Mainao dan Tigori. Mereka
hidup rukun dan damai. Pekerjaan mereka sehari – hari adalah berladang dan
berburu di hutan. Makanan pokok mereka adalah sagu. Rumah mereka terbuat dari gaba – gaba dan kayu. Gaba – gaba adalah batang daun sagu .
Rumah mereka menggantung dengan tiang penyangga lebih dari satu meter dari
permukaan tanah. Kolong rumah mereka digunakan sebagai kandang hewan – hewan peliharaan
seperti; babi, anjing, ayam, dan kasuari.
Suatu
hari ada sepasang suami isteri yang sedang duduk – duduk melepas lelah setelah
seharian berkerja di ladang. Mereka duduk – duduk sambil menikmati minuman
hangat dan keladi rebus. Sambil menikmati minuman dan keladi rebus, sang suami membuat
lelucon yang membuat istrinya tertawa terbahak – bahak. Melihat istri nya
tertawa, sang suami pun ikut tertawa terbahak – bahak. Mereka berdua tertawa
sampai mengeluarkan keringat. Tanpa sengaja keringat mereka berdua jatuh di
bawah kolong rumah tepat di atas buah kaba
– kaba ( buah dari pohon yang
digunakan untuk membuat tikar ). Pada saat yang bersamaan lewatlah seekor
kasuari betina dan memakan buah tersebut.
Beberapa
waktu kemudian, bertelurlah kasuari tersebut. Pada saat telurnya menetas,
terjadilah keajaiban. Dari dalam terlur tersebut keluarlah seorang bayi laki –
laki.
“Waaah....kenapa
telurku menetas menjadi bayi? Bagaimana ini.....aku takut sekali, “ kata
kasuari. “ Lebih baik, bayi ini aku bawa ke hutan saja.”
Kasuari
lalu membawa bayi laki – laki tersebut ke dalam hutan. Sesampainya di hutan,
kasuari memanggil semua binatang dan mengajak untuk berunding.
“
Wahai sahabat – sahabatku yang baik. Telurku telah menetas menjadi bayi laki – laki.
Aku bingung bagaimana merawatnya. Apakah ada di anatara kalian yang bisa
membantuku? “ tanya kasuari kepada para hewan.
“
Tenanglah kawan...aku akan membantumu merawat bayi laki – laki itu,” kata
burung tahun – tahun.
“
Iya...jangan khawatir, kami akan membuatkan sarang untuk tempat tinggalnya,”
sahut burung tahun – tahun lainnya.
Tidak
mau ketinggalan, sekelompok burung kakak tua juga berkata, “ Kami juga akan
membantu mencari makan untuk bayai laki – lakimu.”
Mendengar
perktaan para sahabatnya, kasuaripun merasa lega. Kemudian ia berkata dengan
mata berkaca – kaca karena merasa terharu,“ Waaah...kalian semua memang sahabat
– sahabatku yang baik. Terimakasih ya... atas kesediaan kalian untuk
membantuku.”
“Siiip....pastilah
kami akan membantumu, itulah gunanya punya sahabat.Harus saling tolong –
menolong, “ sahut burung kakak tua.
“
Oke..... oke... . Ayo teman – teman mari kita mulai bekerja !” ajak burung
tahun – tahun.
“
Siaaaaap....laksanakan !” sahut hewan – hewan yang lain.
Selanjutnya
sekawanan burung tahun – tahun membawa bayi itu ke sarang mereka. Sarang
tersebut dibuat di dalam pohon kayu besi atau kayu cendrawasih.
Hari
berganti hari, dan bayi itu pun tumbuh semakin besar. Sarang yang menjadi
tempat tinggalnya sudah semakin sempit.
Burung
tahun – tahunpun berkata pada kasuari, “Sahabatku, anakmu sudah tumbuh semakin
besar. Di dalam sarang, dia sudah tidak bisa leluasa bergerak.”
“Betul...sahabatku,”
kata kasuari. “Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?”
“
Sebaiknya kita turunkan saja dia ke tanah,” jawab burung tahun – tahun.
Kasuaripun
mengumpulkan semua binatang untuk menurunkan anak tersebut dari dalam sarang.
“Teman
– teman, anakku sudah semakin besar. Apakah kalian bisa membantuku untuk
menurunkannya dari dalam sarang?”
“Ooooh....tentu
saja bisa sahabatku. Jangan khawatir...kami pasti akan membantumu,” jawab hewan
– hewan yang lain.
Burung
cendrawasih berkata, “ Kasuari sahabatku, engkau tidak usah khawatir. Setelah
sampai di tanah, kami semua akan membantumu menjaga dan merawatnya.”
“
Iya...betul ..betul..., siiip...siiip...pasti kami akan merawat dan menjaganya
!” sahut burung kakak tua.
Anak
itu selanjutnya dirawat oleh semua binatang yang ada di hutan itu. Kini ia
semakin dewasa dan sudah dapat bekerja. Sedangkan burung kasuari menjadi
semakin tua. Kasuaripun berencana untuk membekali anaknya dengan alat berburu
agar bisa mencukupi kebutuhan hidupnya.
Suatu
hari, kasuari meminta bantuan kepada burung kakak tua untuk mencari tempat
berkumpulnya sekelompok manusia. Kasuari berharap bisa mengambil alat berburu
yang digunakan untuk diberikan kepada anaknya.
“Kakak
tua sahabatku, bantulah aku untuk mendapatkan alat berburu,” kata kasuari.
Jawab
burung kakak tua, “Baiklah....aku akan membantumu.”
Setelah
beberapa saat terbang kian kemari, akhirnya burung kakak tua menemukan
sekumpulan manusia. Mereka sedang menogok sagu dan membawa beberapa ekor
anjing. Burung kakak tua segera menemui kasuari dan melaporkannya.
“Hei...!
aku sudah menemukannya. Ayooo...ikuti aku!” seru burung kakak tua kepada
kasuari.
“Baiklah...,”
jawab kasuari. Kasuaripun berkata kepada anaknya.
“Anakku,
aku akan memancing para manusia itu untuk mengejarku. Ketika mereka mengejarku,
ambilah peralatan berburu yang ditinggalkan mereka.”
“
Baik, Bu. Aku akan mengikuti perkataanmu,” jawab anak kasuari.
Mereka
bertiga segera menuju ke tempat sekelompok manusia yang sedang menogok sagu.
Sesampainya di sana, kasuari menyuruh anaknya bersembunyi. Sementara itu,
kasuari sengaja memperlihatkan dirinya. Saat itulah anjing – anjing milik para
manusia itupun menggonggong dan mengejar.
“Hei..lihat,
Ada kasuari ! Ayo...kita kejar !” seru salah seorang manusia.
“Dagingnya
sangat lezat. Hmmmm....bisa jadi santapan malam yang enak,” sahut yang lainnya.
Yang
lainpun serempak menjawab, “Ya...ayo...kita kejar dan tangkap dia!”
Merekapun
segera berlari dan mengejar kasuari. Pada saat itulah, anak kasuari keluar dari
persembunyiannya dan mengambil peralatan berburu yang tertinggal. Selanjutnya
peralatan berburu itu digunakannya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari –
hari.
Waktu
terus berlalu, anak kasuaripun sudah semakin dewasa dan menjadi pemuda yang
gagah berani. Suatu hari ketika pemuda tersebut sedang memanjat pohon jambu
lewatlah tiga orang perempuan bersaudara yang membawa tango-tango (alat untuk menangkap ikan dan udang). Mereka terkejut
melihat ada telapak kaki manusia dan telapak kaki kasuari.
“Hei....lihat...ada
bekas telapak kaki manusia !” seru perempuan yang paling tua.
“Iya...betul...kakak.Tapi....coba
lihat...! Ada bekas telapak kaki kasuari juga!” sahut perempuan yang kedua.
Perempuan
yang paling kecilpun berkata,”Kalau begitu...mari kita cari darimana asalnya.”
Mereka
bertigapun mengikuti arah telapak kaki tersebut. Setelah beberapa saat
sampailah mereka di bawah pohon jambu dan melihat pemuda tersebut di atasnya.
Sementara itu, kasuari bersembunyi dan mengawasi apa yang akan terjadi. Melihat
ada pemuda di atas pohon, ketiga perempuan itupun berunding.
“
Adik – adikku, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?” tanya perempuan yang
sulung.
“Hmmmmm.....kesepakatan?!
Apa maksud kakak? “ tanya perempuan yang
bungsu.
Perempuan
yang sulung menjawab, “Begini..., bagaimana kalau kita menyuruh pemuda itu
menjatuhkan diri.”
“Waduuuuh....apa
maksudnya, bukankan itu berbahaya? Bagaimana nanti kalau dia terluka?” jawab
perempuan yang tengah.
“Iya....betul
itu. Aaah....kakak ini ada – ada saja.”sahut si bungsu.
“Hei...hei...hei...dengar
dulu. Kakak belum selesai bicara nich... .” seru si sulung. “Jadi begini, kita
letakkan tango – tango kita di bawah pohon jambu. Terus...kita suruh pemuda
tersebut menjatuhkan diri di atas tanggo. Nach...pemilik tanggo tempat pemuda
itu jatuh, dialah yang berhak untuk menjadi isterinya.”
“Bagaimana...?
setuju tidak kalian?” tanya si sulung.
“Hmmmm...
boleh juga. Oke...aku setuju, “ jawab perempuan yang tengah.
“
Aku juga setuju... , “ jawab si bungsu.
Mereka
kemudian membuka tango masing-masing dan meminta pemuda itu menjatuhkan diri.
Pemuda itu pun menjatuhkan diri dan ia jatuh ke dalam tango perempuan yang
paling bungsu.
Pemuda
itupun mereka bawa masuk ke dalam kampung. Kasuari ibunya juga diajak. Pada
saat menikah, pemuda tersebut diberi nama Rewi. Rewi dan isterinya tinggal di rumah, sedangkan kasuari ibunya
tidur di bawah kolong rumah mereka bersama seekor babi putih.
Mereka
hidup bersama dan bahagia. Kehidupan sehari – hari mereka adalah menogok sagu (mengolah sagu dari pohonnya) serta mencari ikan dan udang. Saat Rewi dan isterinya pergi ke hutan,
kasuari ibunya biasa mandi dengan getah pohon kayu kuwar atau kayu
teranting (pohon yang digunakan untuk
membuat perahu).
Rewi
sangat sayang pada kasuari ibunya. Sebagai ungkapan sayang, Rewi sering
membelai – belai bulunya. Pada saat Rewi membelai bulunya, getah pohon
teranting melekat pada tubuh Rewi. Malam hari ketika Rewi tidur bersama
isterinya, tanpa sengaja getah yang melekat pada tubuh Rewi jatuh dan masuk ke
mata isterinya. Mata isteri Rewi pun menjadi sakit parah.
Suatu
hari saat Rewi mencari makan di hutan, datanglah keluarga isteri Rewi. Mereka
terkejut melihat keadaan isteri Rewi yang sedang sakit. Merekapun sangat marah dan sedih melihat keadaan anaknya.
“
Wahai...anakku sayang...mengapa keadaanmu jadi seperti ini?” tanya Ibu mertua
Rewi sambil memeluk anaknya.
Ayah
mertua Rewi juga marah. Berkatalah ia dengan nada penuh emosi, “Dasar anak
binatang, jadi bisanya hanya membuat anakku sakit seperti ini.”
“Adikku,
lebih baik kamu pergi dari sini dan tinggal bersama kami,”kata kakak perempuan
sulung isteri Rewi.
“
Iya adikku, nanti kita akan carikan tabib untuk mengobati sakitmu,” sahut kakak
perempuan yang tengah.
Isteri
Rewi menjawab, “ Tidak bisa seperti itu kakak. Seorang isteri harus tinggal
bersama suami dan berbakti padanya.”
“
Kami sudah berjanji untuk sehidup semati dalam keadaan apapun, baik sedih
maupun gembira, sehat maupun sakit,”
“
Tapi kondisimu saat ini sangat menyedihkan. Kami akan membawamu ke rumah kami,”
kata ayah mertua Rewi.
“
Betul anakku. Ibu suamimu itu hanya seekor binatang yang kotor, maka dia
menularimu dengan penyakit.” kata ibu mertua Rewi.
Kedua
kakak perempuan isteri Rewipun berkata, “ Adikku...ayo cepat kita tinggalkan
tempat ini sebelum penyakitmu bertambah parah.
Merekapun
membawa pergi secara paksa isteri Rewi. Kasuari yang ada di bawah kolong merasa
sedih mendengar perkataan keluarga Rewi. Kasuari juga tidak bisa mencegah
kepergian mereka yang membawa menantunya. Hatinya sangat sedih sekali karena
kejadian ini pasti akan membuat Rewi merasa sedih juga.
Setelah
Rewi pulang dari hutan, kasuari menceritakan apa yang sudah terjadi kepada
Rewi. Hati Rewipun menjadi sedih. Rewipun memeluk ibunya sambil
berkata,”Biarkan saja mereka menghina, tapi Rewi akan selalu menyayangi Ibu.”
Selanjutnya
Rewi berkata pada ibunya, “ Aku akan pergi ke rumah mertuaku dan mengajak
isteriku kembali.”
Rewipun
berhasil mengajak isterinya kembali. Sesampainya di rumah, Rewi berkata kepada
ibu dan isterinya.
“
Kita akan cari tempat tinggal yang baru, supaya tidak diganggu dan dihina
lagi.”
“
Suamiku... kemanakah kita akan pergi?” tanya isteri Rewi.
“
Ke tempat yang aman dan nyaman untuk kita tinggal,” jawab Rewi.
Kasuari
berkata, “ Anakku, di tempat yang baru kita obati mata isterimu dengan air
rendaman daun sirih.”
“
Baik...Ibu,” jawab Rewi.
Akhirnya
mereka meninggalkan kampung tersebut dan tinggal di daerah antara Sungai Skhor
dan Sungai Tarawae. Di tempat tinggal yang baru, Rewi mengobati mata isterinya
dengan air rendaman daun sirih. Mata isteri Rewipun berangsur – angsur pulih.
Kasuari sangat senang melihat keadaan menantunya yang kembali sehat.
Suatu
hari Kasuari berkata pada Rewi, “Anakku, bangunlah rumah yang besar dengan
kamar – kamar yang banyak.”
“
Baik Ibu. Tapi untuk apakah kamar – kamar tersebut? jawab Rewi.
“
Untuk tinggal anakmu dan cucu – cucuku,” sahut kasuari.
“
Oh...begitu... , tampaknya Ibu sudah tidak sabar ya... ingin segera punya cucu
yang lucu – lucu,” kata isteri Rewi.
Hari
berganti hari, bulan dan tahunpun berlalu dengan begitu cepat, namun Rewi dan
isterinya tak kunjung punya anak juga. Kasuari ibu Rewi merasa sedih melihat
anaknya yang kesepian. Maka pada suatu pagi, saat Rewi dan isterinya mau pergi
menokok sagu, ia berpesan kepada mereka berdua.
“
Rewi, nanti kamu harus membawa pulang sagu yang banyak. Dan ketika sampai di
rumah nanti kamu mendengar ada suara ribut – ribut dari dalam rumah, jangan
kamu takut. Mereka adalah saudara – saudaramu.”
“
Baik ..Bu. Nanti Rewi akan membawa pulang sagu yang banyak, “ kata Rewi.
“
Isteriku, mari kita pergi. Pamitlah pada ibu, “ kata Rewi pada isterinya.
Rewi
dan isterinyapun memeluk kasuari bergantian sebelum berangkat ke hutan.
“Berhati – hatilah kalian,” kata kasuari.
Setelah
Rewi dan isterinya pergi, kasuari lalu mengambil parang dan memotong kedua kaki
dan kedua sayapnya. Kemudian ia meletakkan keempat potongan tubuh itu di setiap
sudut tungku (kompor). Sedangkan
tulang pantat dan tulang belakang ia letakkan di sudut dapur. Kasuari ibu
Rewipun meninggal, tetapi anehnya potongan – potongan tubuhnya berubah menjadi
manusia.
Sore
harinya saat Rewi pulang ia terkejut melihat rumahnya ramai sekali. Rewi segera
masuk dan mencari ibunya.
“
Ibu...ibu...ibu... !” teriak Rewi memanggil ibunya. “Aku pulang, Bu. Ini aku
bawakan sagu yang banyak sesuai permintaan ibu.”
Tetapi
alangkah terkejutnya Rewi ketika ia menemukan ibunya sudah tak bernyawa.
“
Ibu...ibu...ibu..., kenapa ibu meninggalkan Rewi?” kata Rewi sambil menangis.
Isteri
Rewipun terkejut melihat mertuanya sudah tidak bernyawa. Dia juga ikut menangis
sambil memeluk Rewi.
Rewi
kemudian menguburkan ibunya. Keluarga besar yang ada di dalam rumah tersebut
oleh Rewi diberi nama Keluarga “Simat”
yang artinya “Kasuari”. Tempat ibu
Rewi dikubur diberi nama “Maanggok”
yang artinya “Tulang pantat dan tulang belakang.”
Nach...
adik – adik demikianlah cerita asal usul Marga Simat. Sekarang kalian paham
khan....mengapa memakan telur dan daging kasuari haram bagi marga Simat. Semoga
kalian bisa mengambil nilai – nilai moral yang terkandung dalam cerita tersebut
di atas.
Pesan Moral :
“ Kita harus menyayangi dan
menghormati Ibu kita apapun keadaannya.”
“ Kita tidak boleh menghina orang lain karena
keadaan fisiknya.”
“ Kita patut meneladan dan
menghargai pengorbanan seorang Ibu untuk kebahagiaan anaknya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar