Minggu, 23 April 2017

Cerita Rakyat dari Sorong Selatan Papua Barat : Asal Usul Marga Simat




 Asal Usul Marga Simat
(Cerita rakyat dari Tanah Tehit  Distrik Teminabuan Kabupaten Sorong Selatan Provinsi Papua Barat )


Adik - adik yang terkasih, pernahkah kalian melihat burung kasuari? Kasuari adalah sejenis unggas yang tidak bisa terbang. Kasuari berasal dari Papua Barat. Ia memiliki kekuatan terbesar pada kakinya. Hewan ini sangat berguna bagi kehidupan manusia. Dagingnya sangat lezat dan bergizi tinggi. Telurnya dapat dimakan dan mengandung protein yang tinggi. Namun, bagi marga Simat memakan daging dan telur kasuari adalah haram. Hmmmm....kenapa haram ya....? Menurut cerita yang disampaikan oleh para tetua marga Simat, dari hewan tersebut lahirlah marga mereka. Menarik bukan? Nah... berikut ini adalah cerita asal usul marga Simat. Yuuk...dibaca agar pengetahuan kalian tentang cerita rakyat asli Indonesia bertambah.
Zaman dahulu di dekat hulu sungai Skak hiduplah masyarakat Kais, Mainao dan Tigori. Mereka hidup rukun dan damai. Pekerjaan mereka sehari – hari adalah berladang dan berburu di hutan. Makanan pokok mereka adalah sagu. Rumah mereka terbuat dari gaba – gaba dan kayu. Gaba – gaba adalah batang daun sagu . Rumah mereka menggantung dengan tiang penyangga lebih dari satu meter dari permukaan tanah. Kolong rumah mereka digunakan sebagai kandang hewan – hewan peliharaan seperti; babi, anjing, ayam, dan kasuari.
Suatu hari ada sepasang suami isteri yang sedang duduk – duduk melepas lelah setelah seharian berkerja di ladang. Mereka duduk – duduk sambil menikmati minuman hangat dan keladi rebus. Sambil menikmati minuman dan keladi rebus, sang suami membuat lelucon yang membuat istrinya tertawa terbahak – bahak. Melihat istri nya tertawa, sang suami pun ikut tertawa terbahak – bahak. Mereka berdua tertawa sampai mengeluarkan keringat. Tanpa sengaja keringat mereka berdua jatuh di bawah kolong rumah tepat di atas buah kaba – kaba ( buah dari pohon yang digunakan untuk membuat tikar ). Pada saat yang bersamaan lewatlah seekor kasuari betina dan memakan buah tersebut.
Beberapa waktu kemudian, bertelurlah kasuari tersebut. Pada saat telurnya menetas, terjadilah keajaiban. Dari dalam terlur tersebut keluarlah seorang bayi laki – laki.
“Waaah....kenapa telurku menetas menjadi bayi? Bagaimana ini.....aku takut sekali, “ kata kasuari. “ Lebih baik, bayi ini aku bawa ke hutan saja.”
Kasuari lalu membawa bayi laki – laki tersebut ke dalam hutan. Sesampainya di hutan, kasuari memanggil semua binatang dan mengajak untuk berunding.
“ Wahai sahabat – sahabatku yang baik. Telurku telah menetas menjadi bayi laki – laki. Aku bingung bagaimana merawatnya. Apakah ada di anatara kalian yang bisa membantuku? “ tanya kasuari kepada para hewan.
“ Tenanglah kawan...aku akan membantumu merawat bayi laki – laki itu,” kata burung tahun – tahun.
“ Iya...jangan khawatir, kami akan membuatkan sarang untuk tempat tinggalnya,” sahut burung tahun – tahun lainnya.
Tidak mau ketinggalan, sekelompok burung kakak tua juga berkata, “ Kami juga akan membantu mencari makan untuk bayai laki – lakimu.”
Mendengar perktaan para sahabatnya, kasuaripun merasa lega. Kemudian ia berkata dengan mata berkaca – kaca karena merasa terharu,“ Waaah...kalian semua memang sahabat – sahabatku yang baik. Terimakasih ya... atas kesediaan kalian untuk membantuku.”
“Siiip....pastilah kami akan membantumu, itulah gunanya punya sahabat.Harus saling tolong – menolong, “ sahut burung kakak tua.
“ Oke..... oke... . Ayo teman – teman mari kita mulai bekerja !” ajak burung tahun – tahun.
“ Siaaaaap....laksanakan !” sahut hewan – hewan yang lain.

Selanjutnya sekawanan burung tahun – tahun membawa bayi itu ke sarang mereka. Sarang tersebut dibuat di dalam pohon kayu besi atau kayu cendrawasih.
Hari berganti hari, dan bayi itu pun tumbuh semakin besar. Sarang yang menjadi tempat tinggalnya sudah semakin sempit.
Burung tahun – tahunpun berkata pada kasuari, “Sahabatku, anakmu sudah tumbuh semakin besar. Di dalam sarang, dia sudah tidak bisa leluasa bergerak.”
“Betul...sahabatku,” kata kasuari. “Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?”
“ Sebaiknya kita turunkan saja dia ke tanah,” jawab burung tahun – tahun.
Kasuaripun mengumpulkan semua binatang untuk menurunkan anak tersebut dari dalam sarang.
“Teman – teman, anakku sudah semakin besar. Apakah kalian bisa membantuku untuk menurunkannya dari dalam sarang?”
“Ooooh....tentu saja bisa sahabatku. Jangan khawatir...kami pasti akan membantumu,” jawab hewan – hewan yang lain.
Burung cendrawasih berkata, “ Kasuari sahabatku, engkau tidak usah khawatir. Setelah sampai di tanah, kami semua akan membantumu menjaga dan merawatnya.”
“ Iya...betul ..betul..., siiip...siiip...pasti kami akan merawat dan menjaganya !” sahut burung kakak tua.
Anak itu selanjutnya dirawat oleh semua binatang yang ada di hutan itu. Kini ia semakin dewasa dan sudah dapat bekerja. Sedangkan burung kasuari menjadi semakin tua. Kasuaripun berencana untuk membekali anaknya dengan alat berburu agar bisa mencukupi kebutuhan hidupnya.
Suatu hari, kasuari meminta bantuan kepada burung kakak tua untuk mencari tempat berkumpulnya sekelompok manusia. Kasuari berharap bisa mengambil alat berburu yang digunakan untuk diberikan kepada anaknya.
“Kakak tua sahabatku, bantulah aku untuk mendapatkan alat berburu,” kata kasuari.
Jawab burung kakak tua, “Baiklah....aku akan membantumu.”
Setelah beberapa saat terbang kian kemari, akhirnya burung kakak tua menemukan sekumpulan manusia. Mereka sedang menogok sagu dan membawa beberapa ekor anjing. Burung kakak tua segera menemui kasuari dan melaporkannya.
“Hei...! aku sudah menemukannya. Ayooo...ikuti aku!” seru burung kakak tua kepada kasuari.
“Baiklah...,” jawab kasuari. Kasuaripun berkata kepada anaknya.
“Anakku, aku akan memancing para manusia itu untuk mengejarku. Ketika mereka mengejarku, ambilah peralatan berburu yang ditinggalkan mereka.”
“ Baik, Bu. Aku akan mengikuti perkataanmu,” jawab anak kasuari.
 


Mereka bertiga segera menuju ke tempat sekelompok manusia yang sedang menogok sagu. Sesampainya di sana, kasuari menyuruh anaknya bersembunyi. Sementara itu, kasuari sengaja memperlihatkan dirinya. Saat itulah anjing – anjing milik para manusia itupun menggonggong dan mengejar.
“Hei..lihat, Ada kasuari ! Ayo...kita kejar !” seru salah seorang manusia.
“Dagingnya sangat lezat. Hmmmm....bisa jadi santapan malam yang enak,”  sahut yang lainnya.
Yang lainpun serempak menjawab, “Ya...ayo...kita kejar dan tangkap dia!”
Merekapun segera berlari dan mengejar kasuari. Pada saat itulah, anak kasuari keluar dari persembunyiannya dan mengambil peralatan berburu yang tertinggal. Selanjutnya peralatan berburu itu digunakannya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari.
Waktu terus berlalu, anak kasuaripun sudah semakin dewasa dan menjadi pemuda yang gagah berani. Suatu hari ketika pemuda tersebut sedang memanjat pohon jambu lewatlah tiga orang perempuan bersaudara yang membawa tango-tango (alat untuk menangkap ikan dan udang). Mereka terkejut melihat ada telapak kaki manusia dan telapak kaki kasuari.
“Hei....lihat...ada bekas telapak kaki manusia !” seru perempuan yang paling tua.
“Iya...betul...kakak.Tapi....coba lihat...! Ada bekas telapak kaki kasuari juga!” sahut perempuan yang kedua.
Perempuan yang paling kecilpun berkata,”Kalau begitu...mari kita cari darimana asalnya.”
Mereka bertigapun mengikuti arah telapak kaki tersebut. Setelah beberapa saat sampailah mereka di bawah pohon jambu dan melihat pemuda tersebut di atasnya. Sementara itu, kasuari bersembunyi dan mengawasi apa yang akan terjadi. Melihat ada pemuda di atas pohon, ketiga perempuan itupun berunding.
“ Adik – adikku, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?” tanya perempuan yang sulung.
“Hmmmmm.....kesepakatan?! Apa maksud kakak? “ tanya perempuan yang  bungsu.
Perempuan yang sulung menjawab, “Begini..., bagaimana kalau kita menyuruh pemuda itu menjatuhkan diri.”
“Waduuuuh....apa maksudnya, bukankan itu berbahaya? Bagaimana nanti kalau dia terluka?” jawab perempuan yang tengah.
“Iya....betul itu. Aaah....kakak ini ada – ada saja.”sahut si bungsu.
“Hei...hei...hei...dengar dulu. Kakak belum selesai bicara nich... .” seru si sulung. “Jadi begini, kita letakkan tango – tango kita di bawah pohon jambu. Terus...kita suruh pemuda tersebut menjatuhkan diri di atas tanggo. Nach...pemilik tanggo tempat pemuda itu jatuh, dialah yang berhak untuk menjadi isterinya.”
“Bagaimana...? setuju tidak kalian?” tanya si sulung.
“Hmmmm... boleh juga. Oke...aku setuju, “ jawab perempuan yang tengah.
“ Aku juga setuju... , “ jawab si bungsu.
Mereka kemudian membuka tango masing-masing dan meminta pemuda itu menjatuhkan diri. Pemuda itu pun menjatuhkan diri dan ia jatuh ke dalam tango perempuan yang paling bungsu.
Pemuda itupun mereka bawa masuk ke dalam kampung. Kasuari ibunya juga diajak. Pada saat menikah, pemuda tersebut diberi nama Rewi. Rewi dan isterinya  tinggal di rumah, sedangkan kasuari ibunya tidur di bawah kolong rumah mereka bersama seekor babi putih.
Mereka hidup bersama dan bahagia. Kehidupan sehari – hari mereka adalah menogok sagu (mengolah sagu dari pohonnya) serta mencari ikan dan udang.  Saat Rewi dan isterinya pergi ke hutan, kasuari ibunya biasa mandi dengan getah pohon kayu kuwar atau kayu teranting (pohon yang digunakan untuk membuat perahu).
Rewi sangat sayang pada kasuari ibunya. Sebagai ungkapan sayang, Rewi sering membelai – belai bulunya. Pada saat Rewi membelai bulunya, getah pohon teranting melekat pada tubuh Rewi. Malam hari ketika Rewi tidur bersama isterinya, tanpa sengaja getah yang melekat pada tubuh Rewi jatuh dan masuk ke mata isterinya. Mata isteri Rewi pun menjadi sakit parah.
Suatu hari saat Rewi mencari makan di hutan, datanglah keluarga isteri Rewi. Mereka terkejut melihat keadaan isteri Rewi yang sedang sakit. Merekapun  sangat marah dan sedih melihat keadaan anaknya.
“ Wahai...anakku sayang...mengapa keadaanmu jadi seperti ini?” tanya Ibu mertua Rewi sambil memeluk anaknya.
Ayah mertua Rewi juga marah. Berkatalah ia dengan nada penuh emosi, “Dasar anak binatang, jadi bisanya hanya membuat anakku sakit seperti ini.”
“Adikku, lebih baik kamu pergi dari sini dan tinggal bersama kami,”kata kakak perempuan sulung isteri Rewi.
“ Iya adikku, nanti kita akan carikan tabib untuk mengobati sakitmu,” sahut kakak perempuan yang tengah.
Isteri Rewi menjawab, “ Tidak bisa seperti itu kakak. Seorang isteri harus tinggal bersama suami dan berbakti padanya.”
“ Kami sudah berjanji untuk sehidup semati dalam keadaan apapun, baik sedih maupun gembira, sehat maupun sakit,”
“ Tapi kondisimu saat ini sangat menyedihkan. Kami akan membawamu ke rumah kami,” kata ayah mertua Rewi.
“ Betul anakku. Ibu suamimu itu hanya seekor binatang yang kotor, maka dia menularimu dengan penyakit.” kata ibu mertua Rewi.
Kedua kakak perempuan isteri Rewipun berkata, “ Adikku...ayo cepat kita tinggalkan tempat ini sebelum penyakitmu bertambah parah.
Merekapun membawa pergi secara paksa isteri Rewi. Kasuari yang ada di bawah kolong merasa sedih mendengar perkataan keluarga Rewi. Kasuari juga tidak bisa mencegah kepergian mereka yang membawa menantunya. Hatinya sangat sedih sekali karena kejadian ini pasti akan membuat Rewi merasa sedih juga.
Setelah Rewi pulang dari hutan, kasuari menceritakan apa yang sudah terjadi kepada Rewi. Hati Rewipun menjadi sedih. Rewipun memeluk ibunya sambil berkata,”Biarkan saja mereka menghina, tapi Rewi akan selalu menyayangi Ibu.”
Selanjutnya Rewi berkata pada ibunya, “ Aku akan pergi ke rumah mertuaku dan mengajak isteriku kembali.”
Rewipun berhasil mengajak isterinya kembali. Sesampainya di rumah, Rewi berkata kepada ibu dan isterinya.
“ Kita akan cari tempat tinggal yang baru, supaya tidak diganggu dan dihina lagi.”
“ Suamiku... kemanakah kita akan pergi?” tanya isteri Rewi.
“ Ke tempat yang aman dan nyaman untuk kita tinggal,” jawab Rewi.
Kasuari berkata, “ Anakku, di tempat yang baru kita obati mata isterimu dengan air rendaman daun sirih.”
“ Baik...Ibu,” jawab Rewi.
Akhirnya mereka meninggalkan kampung tersebut dan tinggal di daerah antara Sungai Skhor dan Sungai Tarawae. Di tempat tinggal yang baru, Rewi mengobati mata isterinya dengan air rendaman daun sirih. Mata isteri Rewipun berangsur – angsur pulih. Kasuari sangat senang melihat keadaan menantunya yang kembali sehat.
Suatu hari Kasuari berkata pada Rewi, “Anakku, bangunlah rumah yang besar dengan kamar – kamar yang banyak.”
“ Baik Ibu. Tapi untuk apakah kamar – kamar tersebut? jawab Rewi.
“ Untuk tinggal anakmu dan cucu – cucuku,” sahut kasuari.
“ Oh...begitu... , tampaknya Ibu sudah tidak sabar ya... ingin segera punya cucu yang lucu – lucu,” kata isteri Rewi.
Hari berganti hari, bulan dan tahunpun berlalu dengan begitu cepat, namun Rewi dan isterinya tak kunjung punya anak juga. Kasuari ibu Rewi merasa sedih melihat anaknya yang kesepian. Maka pada suatu pagi, saat Rewi dan isterinya mau pergi menokok sagu, ia berpesan kepada mereka berdua.
“ Rewi, nanti kamu harus membawa pulang sagu yang banyak. Dan ketika sampai di rumah nanti kamu mendengar ada suara ribut – ribut dari dalam rumah, jangan kamu takut. Mereka adalah saudara – saudaramu.”
“ Baik ..Bu. Nanti Rewi akan membawa pulang sagu yang banyak, “ kata Rewi.
“ Isteriku, mari kita pergi. Pamitlah pada ibu, “ kata Rewi pada isterinya.
Rewi dan isterinyapun memeluk kasuari bergantian sebelum berangkat ke hutan. “Berhati – hatilah kalian,” kata kasuari.
Setelah Rewi dan isterinya pergi, kasuari lalu mengambil parang dan memotong kedua kaki dan kedua sayapnya. Kemudian ia meletakkan keempat potongan tubuh itu di setiap sudut tungku (kompor). Sedangkan tulang pantat dan tulang belakang ia letakkan di sudut dapur. Kasuari ibu Rewipun meninggal, tetapi anehnya potongan – potongan tubuhnya berubah menjadi manusia.
Sore harinya saat Rewi pulang ia terkejut melihat rumahnya ramai sekali. Rewi segera masuk dan mencari ibunya.
“ Ibu...ibu...ibu... !” teriak Rewi memanggil ibunya. “Aku pulang, Bu. Ini aku bawakan sagu yang banyak sesuai permintaan ibu.”
Tetapi alangkah terkejutnya Rewi ketika ia menemukan ibunya sudah tak bernyawa.
“ Ibu...ibu...ibu..., kenapa ibu meninggalkan Rewi?” kata Rewi sambil menangis.
Isteri Rewipun terkejut melihat mertuanya sudah tidak bernyawa. Dia juga ikut menangis sambil memeluk Rewi.
Rewi kemudian menguburkan ibunya. Keluarga besar yang ada di dalam rumah tersebut oleh Rewi diberi nama Keluarga “Simat” yang artinya “Kasuari”. Tempat ibu Rewi dikubur diberi nama “Maanggok” yang artinya “Tulang pantat dan tulang belakang.”
Nach... adik – adik demikianlah cerita asal usul Marga Simat. Sekarang kalian paham khan....mengapa memakan telur dan daging kasuari haram bagi marga Simat. Semoga kalian bisa mengambil nilai – nilai moral yang terkandung dalam cerita tersebut di atas.

Pesan Moral :
“ Kita harus menyayangi dan menghormati Ibu kita apapun keadaannya.”
 “ Kita tidak boleh menghina orang lain karena keadaan fisiknya.”
“ Kita patut meneladan dan menghargai pengorbanan seorang Ibu untuk kebahagiaan anaknya.”
 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar